Hari ini gue mau menulis tentang kisah yang mungkin bisa jadi inspirasi buat kita yang membacanya.
Dua aktor ini gue sebut aja Amanda dan Amarel.
Gue mengambil point of view dari sisi Amanda saat menulis ini.
Suatu ketika, saat Amanda baru saja menjadi siswi baru di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jakarta. Amanda bukanlah anak yang jenius atau selalu rangking saat ia duduk di bangku SD. Hingga, saat SMP, Amanda berniat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan menjadi siswi berprestasi dari segi akademik dan non-akademik. Amanda mengawali niatnya dengan mencari teman sebangku yang bisa diajak belajar bersama, lalu mulai belajar setiap harinya disamping mengerjakan PR dari sekolah. Hari pun berlalu dengan cepat, hingga pada saatnya, Amanda bertemu dengan seorang kakak kelasnya yang duduk dikelas dua saat itu. Amanda sangat silau melihat kakak itu. Ia belum merasakan apapun dalam dirinya, hanya merasa kakak itu sangat hebat. Amanda pun tidak mengetahui siapa nama kakak kelas yang ia temuinya, bahkan ia pun lupa momen apa yang membuatnya bisa bertemu kakak kelasnya itu. Pada akhirnya, Amanda pun bercerita tentang kakak kelas itu dengan teman sebangkunya, Alfi. Ternyata, Alfi mengetahui nama dan kelas dari kakak kelas itu. Ya, Alfi menyukai kakak kelas itu. Amanda yang hanya silau dengan kehebatan kakak kelas itu hanya mendengarkan cerita temannya itu. Amarel, itulah namanya, duduk di kelas 8.8 dan merupakan salah satu anggota OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Di samping itu, Amarel juga merupakan ketua kelas di kelas 8.8.
Semester satu pun berakhir. Amanda puas dengan hasil kerja kerasnya selama semester satu. Namun, menurutnya, ia harus lebih giat dari itu, ditambah Amanda mengetahui bahwa Amarel menduduki posisi pertama dalam kelasnya. Amanda yang hanya berada di posisi ke empat atau ke tiga merasa sangat harus bisa menyamai Amarel. Suatu ambisi yang belum disadari oleh Amanda saat itu. Iya hanya terpacu untuk mencapai seperti apa yang Amarel capai.
Liburan semester satu pun akan berakhir, Amanda bergegas menyiapkan segala keperluan sekolahnya. Di hari pertama masuk semester dua, Amanda mendaftar perlombaan pidato di sekolahnya dan berlatih sangat keras karena ingin menunjukan bahwa ia mampu untuk menjadi anak yang berprestasi. Hingga akhirnya, keinginannya itu tercapai karena lagi lagi kerja kerasnya yang setiap hari berlatih pidato di depan kaca seorang diri. Kadang, ia meminta keluarganya untuk mendengarkannya berpidato. Akibat kerja kerasnya, ia menjadi JUARA 1 perlombaan pidato tersebut. Amanda dan ketua kelasnya di delegasikan oleh wali kelas Amanda untuk mengikuti LDKS yang menjadi salah satu persyaratan menjadi anggota OSIS. Amanda sangat senang dan tidak menyangka karena hal itu bisa membuatnya lebih mengenal Amarel. Lagi lagi, Amanda masih tidak sadar dengan apa yang di rasakan terhadap Amarel. Hingga saatnya, sebelum kegiatan LDKS dimulai, semua calon anggota dipanggil untuk melakukan sesi tanya jawab kesediaan menjadi anggota OSIS dan departemen yang akan dipilih saat telah terpilih menjadi OSIS. Amanda kalah start dengan ketua kelasnya yang sudah memilih departemen yang sama dengan Amarel. Dengan usaha penuh untuk membujuk ketua kelasnya itu, Amanda akhirnya bertukar tempat dengan ketua kelasnya. Dan, Amanda pun berkenalan untuk pertama kalinya dengan Amarel. Amanda masih sangat silau dan menyatakan pada dirinya bahwa ia sangat kagum terhadap Amarel. Hari itu menjadi hari pertama Amanda merasakan bahwa selama ini ia sangat mengagumi Amarel.
LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan) pun di laksanakan hari sabtu dan minggu. Amanda sangat bersemangat mengikutinya. Dan, benar apa yang Amanda prediksikan, Amarel satu kelompok dengannya dan menjalani LDKS bersama selama dua hari. Mereka itu bisa satu kelompok karena Amanda minta tukeran sama ketua kelasnya itu tadi. Amanda dan Amarel pun menjadi semakin dekat satu sama lain. Amanda merasa sangat tertarik dalam mengobrol bersama Amarel. Begitu sebaliknya, Amarel juga sangat menikmati waktunya dengan Amanda. Hingga, Amarel pun meminta nomor HP Amanda. Di akhir LDKS pun Amarel mengatakan pada Amanda untuk tetap dalam satu divisi dengannya. Amanda sangat senang mendengarnya karena bisa selalu bersama dengan idolanya itu.
Hari pengumuman pun tiba, Amanda masuk dalam divisi yang dipimpin oleh Amarel kala itu. Itu diumumkan setelah LDKS digelar. Hingga suatu hari, intensitas pertemanan mereka pun semakin dekat dengan obrolan-obrolan mengenai buku, pelajaran dan hal lain dari hobi mereka masing-masing. Suatu ketika, Amanda di suruh oleh bendahara divisi untuk meminta uang iuran pada Amarel. Dengan gugupnya, Amanda mendatangi kelas Amarel. Dan saat itu juga ada yang aneh dalam perasaan Amanda. Amanda bingung dengan yang ia rasakan. Mengapa ia hanya kagum, tetapi sangat malu, senang dan gugup saat harus ke kelas Amarel dan berbicara hanya berdua.
Pembagian rapot kenaikan kelas pun diumumkan, peringkat Amarel tetap di nomor satu, dan Amanda mendapati kenaikan peringkat dari semester sebelumnya. Hal ini tentu sangat membuat Amanda semakin menggebu untuk menjadi yang terbaik seperti yang Amarel lakukan.
Amarel merupakan sosok pintar, tampan, ramah, alim dan mudah bergaul sehingga Amanda pun mengaggapnya sebagai sosok yang hampir sempurna untuk di contoh.
Saat kenaikan kelas, Amanda duduk di kelas 8.7 waktu itu, dan Amarel duduk di kelas 9.9
Amanda tanpa berpikir panjang, diawal masuk sekolah, ia langsung menggebrak dengan mengajukan diri menjadi ketua kelas, persis seperti apa yang dilakukan oleh Amarel. Selain itu, Amanda semakin menjadi. Belajarnya pun semakin menggila. Semua pertanyaan guru dan tugas yang diberikan, dibabat habis olehnya. Amanda pun semakin sering maju untuk mengerjakan soal-soal dari gurunya. Selalu berusaha mendapat nilai sempurna dalam setiap ujian. Dengan dirinya menjadi ketua kelas, sangat mudah baginya untuk dikenal di kalangan guru-guru. Ditambah lagi, menjadi ketua kelas sangat menguntungkan Amanda. Karena, Amanda semakin sering bertemu dengan Amarel, setiap kali menyerahkan buku absen ke ruang guru saat seluruh ketua kelas dipanggil. Ya, Amarel memang menjadi ketua kelas kembali saat ia kelas 9.
Amanda pun di delegasikan untuk lomba OSN Matematika, DAN, Amarel pun juga di ikut sertakan dalam OSN yang sama. Tanpa di sengaja, Amanda dan Amarel ternyata duduk bersebelahan saat OSN itu dilaksanakan, seperti disambar petir hati Amanda kegirangan. Mereka berdua menyelesaikan soal dengan cepat dan keluar ruangan bersama. Ya, mereka berdua dalam OSN yang sama dengan tingkat berbeda, yaitu Amanda dengan taraf kelas 8 dan Amarel kelas 9.
Amarel pun menanyakan kenapa Amanda tidak pernah SMS dirinya. Yap, Amanda pun merasa bingung menjawabnya karena ia merasa belum pernah di SMS duluan oleh Amarel dan tidak pernah menyimpan nomornya haha. Lalu, Amanda pun meminta ulang nomor Amarel. Mereka pun akhirnya sering bertukar pesar. Dengan isi pesannya adalah.....bahas pelajaran yang Amanda tidak mengerti. (Boring bgt ga sih mereka -_-). Tapi, ini positif juga si ya, mereka bener-bener sama ambisnya.
JRENG. Amanda pun semakin giat dalam belajar, aktif dalam segala kegiatan sekolah, mengambil bagian penting dalam kepengurusan organisasi, dan juga selalu mengikuti berbagai lomba yang diadakan disekolah maupun diluar sekolah seperti cerdas cermat, LKTI atau sebagainya. Hal itu membuat Amarel semakin sering memuji kegigihan Amanda. Dan mereka semakin dekat layaknya teman sebaya. Hingga Amarel pun sering mengatakan bahwa Amanda seperti adiknya sendiri di beberapa kesempatan saat ia bersama dengan teman-temannya.
Namun, di suatu hari, Amanda merasa sangat aneh terhadap perasaannya. Ia merasa tidak suka saat mengetahui Amarel menyukai teman sekelasnya. Terlebih Amanda mengenali wanita tersebut. Amanda sangat bingung, apakah yang ia rasakan ini adalah rasa suka? Cemburu? rasa tidak ingin membagi Amarel pada wanita manapun.
Hal ini pun ia pendam sendiri, hingga Amanda menceritakan pada teman mainnya dirumah. Dan, temanya pun mengatakan bahwa mungkin Amanda menyukai Amarel. Tidak sekedar mengidolakannya.
Amanda pun diam hari itu, malam harinya, Amanda hanya sibuk mengerjakan soal yang ada dibuku cetaknya sembari mendengarkan musik dari radio HP-nya dan kemudian tidur.
Ya, Amanda membuang jauh perasaan itu dan terus mendoktrin dirinya untuk fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai. Yap, Amanda sering sekali menuliskan list tujuannya dan pencapaian yang harus di capainya dalam selembar kertas yang ia tempelkan di dinding kamarnya.
Amanda memang pekerja keras, dan ulet dalam mengusahakan tujuan-tujuannya. Amanda benar-benar memenuhi janjinya untuk menjadi lebih baik dalam bidang akademik maupun non-akademik saat duduk dibangku SMP. Ya, boleh di akui, Amanda sangat bekerja keras melewati batas ketakutannya setelah ia melihat sosok yang ia jadikan idola di sekolahnya.
Dari Amanda, gue belajar akan kegigihan, kerja keras dan juga pentingnya motivasi. Baik itu dari dalam diri sendiri ataupun dari luar. Yang gue liat, Amanda memiliki motivasi yang sangat tinggi dalam dirinya sendiri, ditambah ia mendapatkan sosok idola yang menurutnya sangat perfect, sehingga itu menjadi motivasi yang berasal dari luar. Pada akhirnya, Amanda bisa sangat melesat dan bekerja keras melewati batas ketakutannya.
" Dimana ada kemuan, disitu ada jalan. Kerja keras tidak akan menghianati hasil. Fokus adalah kunci dalam sebuah pencapaian "
Cerita Amanda dan Amarel akan bersambung dalam latar romansa~
Comments
Post a Comment