Dalam sebuah hubungan kasih dengan lawan jenis, tentunya banyak sekali sesuatu yang terjadi. Tidak mungkin sebuah hubungan selalu baik-baik saja, terkadang sebuah hubungan yang baik-baik saja pernah merasa hubungannya sedang tidak dalam keadaan yang baik. Boleh dibilang, sebuah hubungan sama dengan orang bermain roller coster, ada up and downnya dan selalu bergerak. Kadang bikin teriak sampai nangis, kadang bikin teriak sambil ketawa bahagia.
Pun, dalam sebuah hubungan antara dua orang yang sudah dewasa, pasti akan memikirkan untuk menjalin hubungan yang lebih serius dari sekedar "berteman dekat". Kebanyakan dari mereka akan memikirkan hubungan yang lebih serius demi membuat keluarga sendiri. Namun, perjalanan menuju kearah itu tidak mudah. Banyak sekali yang perlu dipersiapkan, mulai dari mental, materi dan ilmu.
Semua itu perlu di persiapkan. Terlebih lagi, dalam menjalin sebuah hubungan yang serius, bukan lagi menyatukan dua orang yang memiliki kepribadian yang berbeda. Namun, lebih dari itu, yaitu menyatukan dua keluarga sekaligus. Hal itu tidaklah mudah, karena dua orang yang berbeda kepribadian saja, perlu hati yang lapang dan ketulusan dalam menerimanya. Bagaimana dengan dua keluarga? Keluarga, terdiri dari anggota keluarga inti dan keluarga besar. Terdiri dari ayah ibu adik/kakak sebagai keluarga inti, dan keluarga besar yang merupakan tempat om, tante atau pakde/budhe. Mereka semua keluarga, kelak dua orang yang ingin bersatu tersebut harus mampu menerimanya.
" Hakikatnya, hubungan antara aku-kamu dan keseriusan ini, bukan hanya memilih kamu sebagai pendamping hidup selamanya, tetapi, siap juga dalam menerima keluargamu. "
Untuk bisa menghadapi itu semua, perlu mental, materi dan ilmu. Ilmu, ini merupakan hakikat dasar bagi setiap orang dewasa yang akan melanjutkan ke hubungan yang serius. Apapun agamanya, pasti akan diajarkan bagaimana sejatinya kehidupan berumah tangga itu. Layaknya kita yang wajib sekolah dulu agar bisa bekerja. Begitu juga dengan rumah tangga. Banyak orang mengatakan, bahwa belajar berumah tangga itu, bisa seiring berjalannya waktu, sembari dilakoni saja. Yap dengan mudahnya teori itu berkembang. Itu memang tidak salah, ada benarnya. Karena dalam bekerja saja, kita hanya memakai 20% keilmuan kuliah kita, lalu sisanya belajar on-the-spot. Tapi tetap ada 20% yang menjadikan keahliannya 100%. Ya begitu juga dengan berumah tangga, butuh ilmu terlebih dahulu. Setidaknya ilmu dasar dalam membangun rumah tangga itu sendiri, dimulai dari menyakan pada diri sendiri, tentang tujuan dan hakikat menikah itu sendiri. Agar belajar mengenai bab berumah tangganya lebih mantap, lebih totalitas, karena kalian sudah tau mengapa kalian harus mempelajari itu. Setelah sekitar 20% kalian serap ilmu dasar berumah tangga, barulah kalian akan siap secara mental. Yap, ada juga beberapa orang yang memang mentalnya telah terbentuk karena lingkungan yang membentuknya, bahkan ada banyak orang yang sudah siap secara mental (dewasa) tapi ilmunya belum. Ya tidak jadi masalah juga, karena tiap orang punya style-nya masing-masing. Yang terpenting, aspek mental dan ilmunya sudah di pegang. Mau dimulai mendewasakan diri dengan ilmu lalu terjun praktik pada kehidupan sosial, ataupun mendapatkan kedewasaan dari kehidupan sosial terlebih dahulu lalu memperkuatnya dengan ilmu. Itu pilihan kalian.
Tapi, kedua itu adalah modal utama dalam membuka gerbang rumah tangga. Seperti yang telah diungkap diatas, karena kalian akan membentuk sebuah keluarga yang juga menggabungkan dua keluarga, dua karakter, dua hal yang belum tentu 100% sama dengan diri kalian.
Lalu yang terakhir, materi. Berbicara tentang materi, ini suatu yang penting juga, karena kebanyakan orang tua di negara kita tidak akan memberikan anak gadisnya kepada laki-laki yang belum mapan secara finansial. Karena mereka takut anaknya akan diberi makan apa haha yagatuh?
Tapi memang itu masuk diakal kan? Karena, rumah tangga itu tidak hanya bermodal, I love you, aku cinta kamu, maka ayo nikah. Lalu kamu nikah pakai uang siapa? Uang orang tua? Engga mungkin dong. Kamu juga harus memikirkan materi ini, paling tidak, kalian punya keyakinan dan kerja keras untuk mencari nafkah. Lebih baik lagi jika memang sudah memiliki pekerjaan yang tetap. Kelebihan materi itu akan bisa di cari bersama dan pasti akan menjadi lebih lagi karena mencarinya berdua :3
MAKANYA, setelah 3 hal penting tadi terpenuhi, silahkan membuka lembar baru untuk memulai biduk rumah tangga yang sakinah mawahdan dan warohmah.
Karena banyak sekarang ini, orang menikah hanya karena, aku suka kamu, kamu suka aku, mari kita menikah. Padahal mereka belum tau pernikahan itu seperti apa aslinya, yang mereka bayangkan hanya nikmatnya di pelaminan selama dua jam itu. Ada lagi yang maunya nikah muda, tapi ilmu agamanya belum mumpuni, mentalnya belum stabil, dua-duanya masih sangat ego. Lalu? Hari-harinya penuh drama, cekcok ini itu hanya karena ego masih tinggi dan mental yang belum stabil. Karena menurut survey, banyak di negara kita, pernikahan muda yang juga berakhir sangat cepat akibat kurang matangnya mental, dan ilmu yang dimiliki. Jika memang kalian tetep kekeuh untuk maju, maka mau tidak mau, kalian harus bekerja keras mengejar ilmu bersama, meluangkan waktu setiap harinya untuk belajar bersama dengan yang paham mengenai dasar rumah tangga yang baik (re:agama). Dan, mendewasakan diri dengan mau menerima kritik dan saran dari satu sama lain. ENGGA BAPERAN. Dan, menanamkan kesabaran yang lebih ekstra lagi bagi masing-masing. Jujur, ini susah-susah gampang menurut pandangan pribadi yaa. Berusaha menjadi sosok yang engga mudah baper dan menjadi pribadi yang sabar itu perlu pembiasaan bagi yang tidak terbiasa lhoo.
Jadi, menikah itu bukan hal perkara yang mudah. Jangan kalian menikah karena teman-teman sudah pada menikah, lalu baper akhirnya ikut-ikutan menikah padahal kalian masih nol putul. Boro-boro nikah, padahal kalian aja masih sering berantem hal sepele sama adik/kakak atau "teman dekat" kalian itu.
Banyak teman-teman gue yang udah menikah kok, dan terhitung muda sekali di umur 22-23 sudah menikah tho? Tapi masih dalam batas wajar untuk wanita negara kita hihi. Walaupun sering kali dibilang kalo idealnya wanita di masyarakat kita itu sekitar 24-25 dan laki-lakinya 27-28. TAPI, lagi lagi ya, kalo 3 hal diatas udah terpenuh kenapa engga? Ya thoo.... Karena hal baik memang harus disegerakan aja sebenenrya hehe.
Anyway, gue nulis ini bukan berarti gue udah bener, tapi berdasarkan pengalaman dari beberapa teman yang sudah menikah, akan menikah ataupun masih galau-galau untuk lanjut ke jenjang serius. Sebagai pendengar, gue merasa itu semua sangat wajar untuk di diskusikan, apalagi mereka yang di usia 20an keatas (Mayoritas mereka yang sudah lulus kuliah). Terlebih bagi kalian para ladies~
Alhamdullilah bagi teman sekalian yang sudah dikasih rezeki untuk menikah dekat ini, mari doakan yang belum agar disegerakan niat baik tersebut!...................Termasuk penulis :p
Comments
Post a Comment